Meskipun aku dan ibuku sangat dekat, bukan berarti hubungan kami tidak
pernah mengalami pasang-surut. Suatu saat aku pernah kesal sama ibu,
karena perbedaan cara pandang terhadap sesuatu. Waktu itu kusampaikan
rasa kecewaku dan ibu hanya bilang jika selama ini pun sudah berusaha
melakukan seperti yang kupinta. Hanya saja memang kondisinya kurang
mendukung. Saat itu aku keceplosan bilang, 'Mana mungkin ibu mengerti,
karena kita sudah beda generasi'. Rasanya menyesal sekali bilang seperti
itu. Takut menyakiti dan membuat hatinya sedih. Padahal selama ini ibu
selalu berbuat yang terbaik untuk anak dan cucunya. Ibuku adalah seorang
Guru yang kini menjadi Kepala Sekolah. Ibuku yang menjadikan aku tetap
ABG (Anak Bu Guru 😁).
Akan tetapi perbedaan lintas generasi pasti ada sedikit hal yang
berbeda, dan kita tidak dapat memaksakan pemikiran kita terhadapnya.
Setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam memahami sesuatu.
Termasuk seorang ibu. Sebagai anak jangan selalu menuntut untuk
dimengerti terus, tapi mencoba juga melihat dan mengerti orang tua,
karena pada dasarnya orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik
untuk anak. Hanya saja caranya mungkin ada yang sedikit berbeda.
Seiring berjalannya waktu dan kedewasaan yang bertambah, kini aku menyadari bahwa begitu besar kasih sayang seorang ibu untuk anaknya. Apalagi sekarang saya pun sudah menjadi seorang ibu. Saat saya merasa khawatir terhadap anak, seperti itu pula kekhawatiran ibu terhadap saya. Ibu adalah sosok yang paling mengerti kondisi anak, selalu memaklumi, tempat curhat terbaik, dan ibulah tempat kita kembali atas semua hal yang terjadi dengan diri kita. Jika kita bisa sukses seperti sekarang, itu semua berkat jasa orang tua, bapak dan ibu. Pencapaian yang kita raih, itu semua bukan karena pencapaian kita sendiri, tapi ada doa orang tua, ada doa ibu. Sering kulihat ibu puasa senin-kamis, dan ibu pernah berkata, "smoga amalannya dapat memudahkan ikhtiar anak-anakku".
Ibu..., kesabaran dan kasih sayangmu tanpa batas. Saat aku berada dalam kandunganmu, engkau menantiku dengan penuh kesabaran, menjalani semua proses kehamilan yang tidak mudah, menjaga pola makan, semua ibu lakukan agar aku dapat terlahir sempurna. Saat melahirkan seorang ibu harus menahan rasa sakit sebesar 57 del, padahal manusia hanya bisa menahan sakit sekitar 45 del. Betapa hebat perjuanganmu ibu....
Setelah aku lahir, dimasa kecilku, kau bersabar menjagaku meskipun harus terbangun di pertengahan malam karena aku menangis minta susu atau merasa tidak nyaman karena popokku basah akibat pipisanku. Kau yang sabar mengajariku membaca dan menulis, mengajarkanku baca puisi, menjadi pembawa acara di sekolah, mengikutkanku ke berbagai macam les agar aku menjadi anak yang pintar. Ibu selalu berusaha menuruti apa yang aku minta, bahkan saat gadget HP masih barang langka, kau penuhi semuanya agar aku tidak ketinggalan dari teman-temanku. Ibu, kau juga yang mengajariku sopan santun, yang selalu menuntunku dengan nasihat kebajikan hidup agar aku dapat hidup berdampingan dengan yang lain, mengatasi semua permasalahan hidup agar aku tegar dan kuat.
Lalu setelah aku besar, haruskah aku merasa lebih pintar, haruskah aku merasa lebih hebat saat ada sedikit hal yang tidak dapat dipahami oleh ibu?Karena kondisi seorang ibu yang sudah mulai menua. Perbedaan dalam mengurus anak, perbedaan sedikit paham dengan istri/suami kita, dan perbedaan-perbedaan kecil yang harusnya dapat kita maklumi. Jangan sampai hanya karena hal-hal kecil, kita menjadi tidak dekat dengan ibu. Padahal apa yang kita dapat sekarang adalah hasil perjuangan ibu, hasil didikan seorang ibu yang senantiasa sabar mengantarkan kita menuju kesuksesan. Jika ada masalah, ibulah yang akan menjadi penengah, membesarkan hati kita, dan selalu memberikan dukungan moril dan materil. Walaubagaimanapun, rasanya kita tidak akan mampu membalas semua kasih sayang yang sudah ibu berikan untukku.
Ibu pernah bilang, jika kebahagiaan anak adalah segalanya buat orang tua. Bukan balasan materi yang ibu inginkan, tapi kebahagiaan anak itu yang paling penting. Melihatku bahagia itu sudah lebih dari cukup buat ibu. Betapa tulusnya kasih sayangmu ibu.Karena itu aku janji akan membuat hidupku selalu bahagia agar ibu tidak khawatir denganku. Maafkan jika aku masih banyak kesalahan, maafkan jika aku pernah membuatmu sedih. Maafkan anakmu ibu....
Terima kasih banyak ibu untuk semua jasa-jasamu.
Terima kasih untuk semua kasih sayang,dan pengorbananmu. Semoga aku bisa menjadi ibu terbaik buat anak-anakku. Aku ingin menjadi ibu sepertimu.
#BerbagiCerita
Seiring berjalannya waktu dan kedewasaan yang bertambah, kini aku menyadari bahwa begitu besar kasih sayang seorang ibu untuk anaknya. Apalagi sekarang saya pun sudah menjadi seorang ibu. Saat saya merasa khawatir terhadap anak, seperti itu pula kekhawatiran ibu terhadap saya. Ibu adalah sosok yang paling mengerti kondisi anak, selalu memaklumi, tempat curhat terbaik, dan ibulah tempat kita kembali atas semua hal yang terjadi dengan diri kita. Jika kita bisa sukses seperti sekarang, itu semua berkat jasa orang tua, bapak dan ibu. Pencapaian yang kita raih, itu semua bukan karena pencapaian kita sendiri, tapi ada doa orang tua, ada doa ibu. Sering kulihat ibu puasa senin-kamis, dan ibu pernah berkata, "smoga amalannya dapat memudahkan ikhtiar anak-anakku".
Ibu..., kesabaran dan kasih sayangmu tanpa batas. Saat aku berada dalam kandunganmu, engkau menantiku dengan penuh kesabaran, menjalani semua proses kehamilan yang tidak mudah, menjaga pola makan, semua ibu lakukan agar aku dapat terlahir sempurna. Saat melahirkan seorang ibu harus menahan rasa sakit sebesar 57 del, padahal manusia hanya bisa menahan sakit sekitar 45 del. Betapa hebat perjuanganmu ibu....
Setelah aku lahir, dimasa kecilku, kau bersabar menjagaku meskipun harus terbangun di pertengahan malam karena aku menangis minta susu atau merasa tidak nyaman karena popokku basah akibat pipisanku. Kau yang sabar mengajariku membaca dan menulis, mengajarkanku baca puisi, menjadi pembawa acara di sekolah, mengikutkanku ke berbagai macam les agar aku menjadi anak yang pintar. Ibu selalu berusaha menuruti apa yang aku minta, bahkan saat gadget HP masih barang langka, kau penuhi semuanya agar aku tidak ketinggalan dari teman-temanku. Ibu, kau juga yang mengajariku sopan santun, yang selalu menuntunku dengan nasihat kebajikan hidup agar aku dapat hidup berdampingan dengan yang lain, mengatasi semua permasalahan hidup agar aku tegar dan kuat.
Lalu setelah aku besar, haruskah aku merasa lebih pintar, haruskah aku merasa lebih hebat saat ada sedikit hal yang tidak dapat dipahami oleh ibu?Karena kondisi seorang ibu yang sudah mulai menua. Perbedaan dalam mengurus anak, perbedaan sedikit paham dengan istri/suami kita, dan perbedaan-perbedaan kecil yang harusnya dapat kita maklumi. Jangan sampai hanya karena hal-hal kecil, kita menjadi tidak dekat dengan ibu. Padahal apa yang kita dapat sekarang adalah hasil perjuangan ibu, hasil didikan seorang ibu yang senantiasa sabar mengantarkan kita menuju kesuksesan. Jika ada masalah, ibulah yang akan menjadi penengah, membesarkan hati kita, dan selalu memberikan dukungan moril dan materil. Walaubagaimanapun, rasanya kita tidak akan mampu membalas semua kasih sayang yang sudah ibu berikan untukku.
Ibu pernah bilang, jika kebahagiaan anak adalah segalanya buat orang tua. Bukan balasan materi yang ibu inginkan, tapi kebahagiaan anak itu yang paling penting. Melihatku bahagia itu sudah lebih dari cukup buat ibu. Betapa tulusnya kasih sayangmu ibu.Karena itu aku janji akan membuat hidupku selalu bahagia agar ibu tidak khawatir denganku. Maafkan jika aku masih banyak kesalahan, maafkan jika aku pernah membuatmu sedih. Maafkan anakmu ibu....
Terima kasih banyak ibu untuk semua jasa-jasamu.
Terima kasih untuk semua kasih sayang,dan pengorbananmu. Semoga aku bisa menjadi ibu terbaik buat anak-anakku. Aku ingin menjadi ibu sepertimu.
(My lovely Mom & Brother)
#CatatanMia#BerbagiCerita
Komentar
Posting Komentar