Sebaiknya
jika laki-laki sudah berumah tangga segera memisahkan diri dari rumah
orang tua. Karena tidak hanya agar pasangan baru bisa MANDIRI, tapi juga
bibit-bibit pemicu konflik rumah tangga bisa berawal dari interaksi
antara ISTRI dengan MENANTU atau IPAR. Bibit konflik bisa berawal dari
ketidakcocokan satu sama lain. Perbedaan karakter, pendidikan, dan
lingkungan tempat dibesarkan tentu sangat mempengaruhi pola pikir dan
cara mengambil keputusan.
Bahkan saat masalah FINANSIAL mulai timbul, dimana mertua merasa berhak atas segala sesuatu punya anak, dan istri juga merasa bahwa tugas dan kewajiban suami yang utama adalah menafkahi keluarga sendiri, ISTRI dan ANAK terlebih dahulu. Saat pihak ketiga mulai hadir dalam urusan finansial dimana saat istri tidak dilibatkan akan menjadi salah dan dilibatkan pun juga salah. Menjadi buah simalakama untuk sang suami. Menafkahi istri dan anak adalah kewajiban. Membantu orang tua dan saudara juga kewajiban, dan secara naluri tentu merupakan keinginan untuk dapat membantu keluarga yang telah membesarkan sejak kecil. Namun saat isi dompet pas-pasan, siapa yang harus diprioritaskan?
Saat menantu yang tidak bekerja dianggap pelit dan tidak bisa mengatur keuangan keluarga. Padahal selama ini sudah pusing membagi antara kebutuhan keluarganya sendiri dengan keluarga suami. Berusaha untuk mengatur sedemikian hingga agar kebutuhan tercukupi. Bahkan rela mengalah untuk menahan keinginan beli baju baru dan kosmetik yang agak mahal seperti yang lainnya. Namun saat usahanya itu tidak dianggap dan dituduh gak bisa mengelola keuangan padahal cuma tinggal minta?. Kadang ada satu waktu dimana hatinya rapuh dan hanya ingin ada sosok yang mengerti hatinya dan mendekap dalam kata-kata yang damai dari sosok sang suami. Namun saat suami kurang begitu mengerti dengan tanda-tanda ini, disitulah bibit masalah pernikahan mulai muncul. Perasaan sedih dan tidak nyaman di hati seorang istri. 💔
Saat menantu yang bekerja tidak pernah merasa dianggap di keluarga suami, padahal selama ini sudah mengalah dalam hal keuangan keluarga. Rela berbagi keuangan agar suami dapat memberi untuk keluarganya. Tidak mempermasalahkan saat tidak diberi uang belanja bulanan karena masih dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dari hasil bekerja. Namun ternyata merasa tidak dihargai dan kemudian kecewa. Inipun bisa menjadi pemicu awal konflik rumah tangga.💔
Masalah klasik seperti ini banyak sekali terjadi dalam rumah tangga. Terutama antara istri dan mertua, apalagi jika menyangkut hal yang cukup sensitif seperti finansial. Maka sebaiknya pasangan baru segera pisah rumah meskipun ngontrak. Apalagi jika dalam rumah terdiri dari beberapa keluarga, dimana ada mertua, dan keluarga ipar tinggal di sana. Tentu ini kurang bagus, karena masalah kecil aja bisa jadi sumbu penyulut, seperti siapa yang bertanggungjawab dengan pembayaran listrik, air, dan sebagainya. Belum lagi jika ada yang merasa dirugikan karena merasa lebih banyak berkorban secara finansial. Bagaimanapun satu rumah terdiri dari beberapa dapur sangat rentan untuk terjadi gesekan.
Ini hanya setitik dari problematika dalam rumah tangga. Bahwa yang dianggap pihak ketiga bukan hanya soal WIL (wanita idaman lain), tapi juga bisa terjadi dari orang-orang terdekat yang kurang memahami.
Tidak semua hubungan istri dan mertua kurang harmonis. Banyak juga yang tinggal serumah dengan mertua HAPPY ENDING, banyak juga mertua yang sangat PENGERTIAN. Bahkan mertua yang betul-betul seperti ibu kandung sendiri. Mengayomi seperti ke anak sendiri. Seperti nenek yang menikah dengan kakek yang anak tunggal. Tentu orang tuanya kakek tidak punya pilihan di saat usia senja,kecuali tinggal dengan anak semata wayangnya. Namun hubungan nenek dengan ibu mertuanya sangat baik meskipun nenek hanya ibu rumah tangga biasa, tidak bekerja. Bahkan nenek belajar mengelola keuangan dari mertuanya. Tidak dengan pembukuan yang rumit, tapi bagaimana mensyukuri berapapun pemberian suami dan membuatnya menjadi cukup untuk keluarga. Sangat jauh dari kata HUTANG, apalagi untuk keperluan yang tidak jelas. Itu juga yang menjadikan saya salut dengan gaya hidup orang tua jaman dahulu. Hidup SEDERHANA tapi CUKUP. Bisa nabung untuk beli sawah-kebun dan bisa menyekolahkan anak tanpa pusing dengan HUTANG.
Jadi sebetulnya semua itu tergantung karakter dan pola pikir masing-masing. Dan klo ada pilihan bagi pasangan rumah tangga untuk memilih, pilih saja yang lebih membahagiakan bagi pasangan, pilih yang lebih baik untuk kebahagiaan bersama. Setuju?😉
#CatatanBundaArka
#CatatanMia
#BerbagiCerita
Bahkan saat masalah FINANSIAL mulai timbul, dimana mertua merasa berhak atas segala sesuatu punya anak, dan istri juga merasa bahwa tugas dan kewajiban suami yang utama adalah menafkahi keluarga sendiri, ISTRI dan ANAK terlebih dahulu. Saat pihak ketiga mulai hadir dalam urusan finansial dimana saat istri tidak dilibatkan akan menjadi salah dan dilibatkan pun juga salah. Menjadi buah simalakama untuk sang suami. Menafkahi istri dan anak adalah kewajiban. Membantu orang tua dan saudara juga kewajiban, dan secara naluri tentu merupakan keinginan untuk dapat membantu keluarga yang telah membesarkan sejak kecil. Namun saat isi dompet pas-pasan, siapa yang harus diprioritaskan?
Saat menantu yang tidak bekerja dianggap pelit dan tidak bisa mengatur keuangan keluarga. Padahal selama ini sudah pusing membagi antara kebutuhan keluarganya sendiri dengan keluarga suami. Berusaha untuk mengatur sedemikian hingga agar kebutuhan tercukupi. Bahkan rela mengalah untuk menahan keinginan beli baju baru dan kosmetik yang agak mahal seperti yang lainnya. Namun saat usahanya itu tidak dianggap dan dituduh gak bisa mengelola keuangan padahal cuma tinggal minta?. Kadang ada satu waktu dimana hatinya rapuh dan hanya ingin ada sosok yang mengerti hatinya dan mendekap dalam kata-kata yang damai dari sosok sang suami. Namun saat suami kurang begitu mengerti dengan tanda-tanda ini, disitulah bibit masalah pernikahan mulai muncul. Perasaan sedih dan tidak nyaman di hati seorang istri. 💔
Saat menantu yang bekerja tidak pernah merasa dianggap di keluarga suami, padahal selama ini sudah mengalah dalam hal keuangan keluarga. Rela berbagi keuangan agar suami dapat memberi untuk keluarganya. Tidak mempermasalahkan saat tidak diberi uang belanja bulanan karena masih dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dari hasil bekerja. Namun ternyata merasa tidak dihargai dan kemudian kecewa. Inipun bisa menjadi pemicu awal konflik rumah tangga.💔
Masalah klasik seperti ini banyak sekali terjadi dalam rumah tangga. Terutama antara istri dan mertua, apalagi jika menyangkut hal yang cukup sensitif seperti finansial. Maka sebaiknya pasangan baru segera pisah rumah meskipun ngontrak. Apalagi jika dalam rumah terdiri dari beberapa keluarga, dimana ada mertua, dan keluarga ipar tinggal di sana. Tentu ini kurang bagus, karena masalah kecil aja bisa jadi sumbu penyulut, seperti siapa yang bertanggungjawab dengan pembayaran listrik, air, dan sebagainya. Belum lagi jika ada yang merasa dirugikan karena merasa lebih banyak berkorban secara finansial. Bagaimanapun satu rumah terdiri dari beberapa dapur sangat rentan untuk terjadi gesekan.
Ini hanya setitik dari problematika dalam rumah tangga. Bahwa yang dianggap pihak ketiga bukan hanya soal WIL (wanita idaman lain), tapi juga bisa terjadi dari orang-orang terdekat yang kurang memahami.
Tidak semua hubungan istri dan mertua kurang harmonis. Banyak juga yang tinggal serumah dengan mertua HAPPY ENDING, banyak juga mertua yang sangat PENGERTIAN. Bahkan mertua yang betul-betul seperti ibu kandung sendiri. Mengayomi seperti ke anak sendiri. Seperti nenek yang menikah dengan kakek yang anak tunggal. Tentu orang tuanya kakek tidak punya pilihan di saat usia senja,kecuali tinggal dengan anak semata wayangnya. Namun hubungan nenek dengan ibu mertuanya sangat baik meskipun nenek hanya ibu rumah tangga biasa, tidak bekerja. Bahkan nenek belajar mengelola keuangan dari mertuanya. Tidak dengan pembukuan yang rumit, tapi bagaimana mensyukuri berapapun pemberian suami dan membuatnya menjadi cukup untuk keluarga. Sangat jauh dari kata HUTANG, apalagi untuk keperluan yang tidak jelas. Itu juga yang menjadikan saya salut dengan gaya hidup orang tua jaman dahulu. Hidup SEDERHANA tapi CUKUP. Bisa nabung untuk beli sawah-kebun dan bisa menyekolahkan anak tanpa pusing dengan HUTANG.
Jadi sebetulnya semua itu tergantung karakter dan pola pikir masing-masing. Dan klo ada pilihan bagi pasangan rumah tangga untuk memilih, pilih saja yang lebih membahagiakan bagi pasangan, pilih yang lebih baik untuk kebahagiaan bersama. Setuju?😉
#CatatanBundaArka
#CatatanMia
#BerbagiCerita
Komentar
Posting Komentar