Suatu hari saya pernah dicurhatin sama seseorang yang saya anggap seperti adik sendiri.
"Teh mia, saya punya rekan kerja yang sepertinya hobi banget cari-cari kesalahan saya. Sedikit aja kesalahan langsung jadi bahan pembicaraan. Giliran dia yang salah, langsung diam- diam sembunyi tangan. Padahal klo saya mau, saya juga bisa kok seperti dia. Tapi ya buat apa? Cuma ya tetep kesel aja sih teh. Orang seperti itu harus diapain ya?".
Kira-kira klo emak menghadapi orang seperti itu juga di kantor tempat emak kerja, apa yang akan emak lakukan?
Namanya kerja pasti ada suka dukanya. Pasti adalah hal-hal yang kurang mengenakan, salah satunya saat kita punya teman kerja yang agak 'unik'. Tapi ya klo kerja kita tidak bisa milih-milih teman, kita harus bisa bekerjasama dengan siapapun demi tercapainya visi dan misi perusahaan.
Dalam persaingan kerja yang cukup ketat, kadang kita menemukan beberapa teman yang sepertinya kurang 'welcome' dengan kehadiran kita. Dia tidak akan memilih kita meskipun kita terbaik. Dalam hubungan personal juga pasti akan terasa kurang hangat. Pokoknya kita bisa merasakan beda lah. Malahan ada yang sampai membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman. Nah hal ini yang tidak boleh terjadi.
Terus apa yang bisa kita lakukan agar suasana di kantor tetap kondusif dan kita bisa berteman dengan siapapun?
Pertama adalah introspeksi diri dan selalu berpikir positif. Dengan berintrospeksi kita dapat melihat kekurangan diri sendiri, mencoba agar tetap rendah hati dan mawas diri. Misalnya saat saya tidak terpilih dalam sebuah kompetisi, itu berarti ada yang kurang dengan diri saya, berarti saya masih harus banyak belajar lagi. Atau jika belum mendapat kesempatan, kita bisa mengalihkan kepada kegiatan lain yang lebih positif, misalnya jadi bisa menyalurkan hobi menulis lebih banyak, jadi punya waktu istirahat yang banyak. Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk kita, bahkan saat kita belum mendapat kesempatan, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Dengan introspeksi diri, kita juga jadi lebih mudah menemukan akar permasalahannya, karena mungkin reaksi yang dilakukan teman akibat diri kita sendiri juga.
Mempunyai teman dengan karakter yang kurang menyenangkan memang membuat tidak nyaman, tapi cobalah untuk mengerti dan jangan mudah terpengaruh emosi. Seribu cara dia berusaha menjatuhkan kita, ada seribu cara juga agar kita tetap baik padanya. Jangan pernah membalas dengan perbuatan yang sama karena itu hanya akan membuat kita tidak lebih baik darinya. Pokoknya selalu tunjukin bahwa kita peduli dengannya, kita senang melihat dia senang, dan jangan sungkan untuk membantunya saat diperlukan. Tunjukan bahwa kita adalah teman yang baik, dan akan selalu objektif dengan pencapaian teman yang lain.
Tuhan memberikan kita satu mulut dan dua telinga, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Menghadapi teman yang seperti itu sebaiknya jangan terlalu banyak bicara, jadilah pendengar yang aktif, dan selalu tanggap melihat keadaan. Jika ada statement yang kurang enak didengar, jangan suka diambil hati. Anggap aja itu teman yang iri, dan cukup buktikan dengan kinerja kita yang baik.
Dalam proses memanage emosi agar tetap positif memang tidak mudah. Sesekali bisa up and down. Yang penting kita senantiasa menyadari dan kembali lagi kepada niatan awal agar selalu menjadi manusia yang baik. Saat kita lagi down, sesekali kita perlu teman curhat. Emak bisa curhat kepada teman yang bisa dipercaya dan dapat memberikan dukungan motivasi. Jangan sampai salah pilih teman curhat ya mak, pilih yang netral dan dapat menjaga rahasia.
Jika cara diatas belum memberikan hasil maksimal, sebaiknya kita bisa menjaga jarak dengan teman tersebut. Biasanya masalah akan timbul karena seringnya berinteraksi. Untuk meminimalisir gesekan dengan teman sebaiknya jaga jarak dan seperlunya aja. Jangan sampai energi kita habis karena terfokus dengan satu-dua teman yang kurang mendukung. Sangat merugikan sekali kan? Lagi pula teman kita gak cuma satu, kita masih punya banyak teman yang lainnya. Lebih baik kita fokus dengan teman-teman yang sayang sama kita, emak setuju?
#CatatanMia
#BerbagiCerita
"Teh mia, saya punya rekan kerja yang sepertinya hobi banget cari-cari kesalahan saya. Sedikit aja kesalahan langsung jadi bahan pembicaraan. Giliran dia yang salah, langsung diam- diam sembunyi tangan. Padahal klo saya mau, saya juga bisa kok seperti dia. Tapi ya buat apa? Cuma ya tetep kesel aja sih teh. Orang seperti itu harus diapain ya?".
Kira-kira klo emak menghadapi orang seperti itu juga di kantor tempat emak kerja, apa yang akan emak lakukan?
Namanya kerja pasti ada suka dukanya. Pasti adalah hal-hal yang kurang mengenakan, salah satunya saat kita punya teman kerja yang agak 'unik'. Tapi ya klo kerja kita tidak bisa milih-milih teman, kita harus bisa bekerjasama dengan siapapun demi tercapainya visi dan misi perusahaan.
Dalam persaingan kerja yang cukup ketat, kadang kita menemukan beberapa teman yang sepertinya kurang 'welcome' dengan kehadiran kita. Dia tidak akan memilih kita meskipun kita terbaik. Dalam hubungan personal juga pasti akan terasa kurang hangat. Pokoknya kita bisa merasakan beda lah. Malahan ada yang sampai membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman. Nah hal ini yang tidak boleh terjadi.
Terus apa yang bisa kita lakukan agar suasana di kantor tetap kondusif dan kita bisa berteman dengan siapapun?
Pertama adalah introspeksi diri dan selalu berpikir positif. Dengan berintrospeksi kita dapat melihat kekurangan diri sendiri, mencoba agar tetap rendah hati dan mawas diri. Misalnya saat saya tidak terpilih dalam sebuah kompetisi, itu berarti ada yang kurang dengan diri saya, berarti saya masih harus banyak belajar lagi. Atau jika belum mendapat kesempatan, kita bisa mengalihkan kepada kegiatan lain yang lebih positif, misalnya jadi bisa menyalurkan hobi menulis lebih banyak, jadi punya waktu istirahat yang banyak. Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk kita, bahkan saat kita belum mendapat kesempatan, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Dengan introspeksi diri, kita juga jadi lebih mudah menemukan akar permasalahannya, karena mungkin reaksi yang dilakukan teman akibat diri kita sendiri juga.
Mempunyai teman dengan karakter yang kurang menyenangkan memang membuat tidak nyaman, tapi cobalah untuk mengerti dan jangan mudah terpengaruh emosi. Seribu cara dia berusaha menjatuhkan kita, ada seribu cara juga agar kita tetap baik padanya. Jangan pernah membalas dengan perbuatan yang sama karena itu hanya akan membuat kita tidak lebih baik darinya. Pokoknya selalu tunjukin bahwa kita peduli dengannya, kita senang melihat dia senang, dan jangan sungkan untuk membantunya saat diperlukan. Tunjukan bahwa kita adalah teman yang baik, dan akan selalu objektif dengan pencapaian teman yang lain.
Tuhan memberikan kita satu mulut dan dua telinga, agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Menghadapi teman yang seperti itu sebaiknya jangan terlalu banyak bicara, jadilah pendengar yang aktif, dan selalu tanggap melihat keadaan. Jika ada statement yang kurang enak didengar, jangan suka diambil hati. Anggap aja itu teman yang iri, dan cukup buktikan dengan kinerja kita yang baik.
Dalam proses memanage emosi agar tetap positif memang tidak mudah. Sesekali bisa up and down. Yang penting kita senantiasa menyadari dan kembali lagi kepada niatan awal agar selalu menjadi manusia yang baik. Saat kita lagi down, sesekali kita perlu teman curhat. Emak bisa curhat kepada teman yang bisa dipercaya dan dapat memberikan dukungan motivasi. Jangan sampai salah pilih teman curhat ya mak, pilih yang netral dan dapat menjaga rahasia.
Jika cara diatas belum memberikan hasil maksimal, sebaiknya kita bisa menjaga jarak dengan teman tersebut. Biasanya masalah akan timbul karena seringnya berinteraksi. Untuk meminimalisir gesekan dengan teman sebaiknya jaga jarak dan seperlunya aja. Jangan sampai energi kita habis karena terfokus dengan satu-dua teman yang kurang mendukung. Sangat merugikan sekali kan? Lagi pula teman kita gak cuma satu, kita masih punya banyak teman yang lainnya. Lebih baik kita fokus dengan teman-teman yang sayang sama kita, emak setuju?
#CatatanMia
#BerbagiCerita
Komentar
Posting Komentar