Betul sekali Bu, bahwa mengurus anak itu
merepotkan, apalagi jika punya anak banyak. Dapat dibayangkan betapa repotnya
mengurusi banyak anak sendirian. Tapi percayalah Bu, suatu saat jika anakmu
sudah dewasa. Pasti anak-anak akan merasa bangga karena ibu adalah wanita hebat
yang mampu mendidik anak dengan cinta meskipun dengan segala keterbatasan.
Betul sekali Bu, bahwa sebagai perempuan
kita ingin dicukupi secara materi, dimanjakan, diajak jalan-jalan seperti
pasangan suami istri yang lain. Tapi sabarlah Bu, saat suami belum dapat
memberikan semua itu, mungkin suami penghasilannya belum terlalu besar,
sehingga harus memprioritaskan terlebih dahulu kebutuhan dan pendidikan
anak-anak. Jangan membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain.
Karena setiap keluarga punya masalahnya sendiri-sendiri. Ingat komitmen dulu
yang dibangun saat akan berkeluarga, mau menerima segala kekurangan pasangan.
Termasuk juga soal keuangan. Sabar dulu ya Bu, mungkin nanti jika anak-anak
sudah besar, perhatian suami akan sepenuhnya menjadi milik ibu. Pada akhirnya
menikmati kebersamaan berdua, tinggal memetik manisnya perjuangan melewati
ujian hidup dan berbahagia atas kesuksesan anak-anak.
Tolonglah mengerti sedikit Pak. Bahwa
perempuan itu memang sedikit rumit dengan perasaannya. Biarkan ia mengeluarkan
semua keluh kesahnya. Cukup dengarkan, dan peluklah. Karena perempuan itu
sebetulnya hanya perlu pengertian yang mendalam, atas segala keinginan yang
tidak didapatkan. Perempuan itu perlu dukungan dalam mendidik anak. Perlu waktu
untuk kebersamaan agar bisa berbagi rasa.
Begitulah perempuan Pak. Tuhan lebih tahu
segala usaha bapak dalam mencari nafkah untuk keluarga. Jika istri sering
menceritakan keinginan yang tidak dapat bapak penuhi, itu bukan karena istri
tidak menghargai jerih payah bapak dalam menafkahi keluarga. Tapi itu adalah
ungkapan hatinya agar mendapat perhatian lebih dari bapak, terutama dukungan
psikologis. Ingat pak, perempuan itu diciptakan lebih lembut perangainya dari
pada laki-laki. Perasaannya selalu ingin dilindungi. Istri tidak hanya butuh
materi, tapi juga keberadaan jiwa raga bapak. Disini sebetulnya peran seorang
bapak sangat diperlukan dalam keluarga.
Pak, Bu, bukankah pernikahan itu untuk saling
melengkapi?. Jika ada hal yang membuatmu merasa susah, maka jangan kau ulang
kesusahan itu kepada anakmu. Jika merasa tidak tercukupi secara nafkah itu
tidak enak, maka jangan buat sejarah yang sama. Karena perempuan manapun
perasaannya sama. Dan sampai kapan pun anak itu akan selalu mencintai orang
tuanya. Hargailah berapa pun pemberian anakmu, karena itu adalah hasil
keringatnya dan bukti cinta untukmu, meskipun apa yang dilakukan anakmu tidak
seberapa dibanding pengorbananmu yang besar itu. Sabarlah Bu, buanglah
jauh-jauh semua perasaan yang kurang nyaman, yakinlah bahwa anak-cucumu begitu
mencintaimu. Berbahagialah, besarkan hatimu. Karena suatu saat perbuatan baik
untuk suami dan anak-anak akan kembali padamu.
Lihatlah Pak, Bu, ada jiwa-jiwa yang masih
punya masa depan yang masih panjang. Mereka adalah anak dan cucumu, generasi
mendatangmu. Mereka sebetulnya yang harus lebih diperhatikan, karena langkah
mereka masih panjang. Mereka harus punya kekuatan untuk bertahan di era yang
sangat berbeda denganmu. Bukankah orang tua itu selalu lebih mengutamakan
kebahagiaan dan masa depan anak-anak? Anak yang berbahagia dan sukses, akan
hormat dengan orang tuanya, dan pasti tidak akan melupakanmu di masa tuamu.
Percayalah semua itu. Sabarlah, semua akan indah pada waktunya.
(Tulisan ini terinspirasi dari curhat seorang sahabat. Pada kenyataannya memang masih banyak pasutri yang tidak dapat memahami dan mengerti satu sama lain. Alhamdulillah, saya punya orang tua yang rukun, dan kami hanya dua bersaudara, jadi tidak pernah mengalami hal di atas. Semoga rumah tangga saya dan suami juga tetap rukun sampai maut memisahkan.)
#BerbagiCerita
#CatatanMia
( pixabay image)
Komentar
Posting Komentar