Pernah gak sih ngalamin salah paham sama teman kantor, sahabat, atau
bahkan dengan saudara terdekat? Hubungan yang biasanya cair, tiba-tiba
jadi beku kayak es dalam freezer di kulkas. Suasananya jadi kurang enak. Seperti ada sekat pengahalang dalam hati kita. Beda lah pokoknya....!
Saya selalu diajarin oleh ibu untuk selalu akur sama siapa pun.
Lagipula gak enak juga kan klo kelamaan 'perang dingin' kayak gitu.
'Kenapa harus aku yang selalu baikin, nanti dia tambah besar kepala'.
'Ah biarin aja, dia yang salah kok, harusnya dia duluan dong yang minta maaf'.
'Gengsi dong ah'.
'Gengsi dong ah'.
Alih-alih menunggu orang lain yang inisiatif terlebih dahulu, yang ada hubungannya tambah bubar jalan....
Jika ingin diperhatikan, maka kita harus memperhatikan orang lain terlebih dahulu.
Jika ingin disayangi, maka kita pun harus sayang sama orang lain.
Jika ingin dimengerti, maka kita juga harus mengerti orang lain terlebih dahulu.
Jika ingin disayangi, maka kita pun harus sayang sama orang lain.
Jika ingin dimengerti, maka kita juga harus mengerti orang lain terlebih dahulu.
Semuanya harus dimulai dari kita sendiri. Jangan membalas sikap buruk
orang lain dengan sikap yang sama. Klo kata almarhum kakek saya,
'mengalah untuk menang'. Pertama, jika memungkinkan kita bisa
menjelaskan maksud kita yang sebenarnya, tidak ada salahnya untuk
dicoba. Tapi jika itu malah memperburuk keadaan atau malah tambah salah
paham, perbuatan langsung lebih baik dari sekedar berbicara. Lakukan apa
yang ingin dikatakan. Biar orang lain yang menilai sendiri.
Mencoba untuk menyapa dan mengajak terlebih dahulu bagaimana pun
reaksinya. Tunjukan bahwa kita pribadi yang baik. Berusaha untuk 'care'
aja meskipun tidak dibalas. Nanti juga lama-kelamaan orang tersebut akan
menyadari bahwa ternyata dia telah salah menilai diri kita, dan
hubungan yang beku pun akan cair kembali.
#CatatanMia
#BerbagiCerita
Komentar
Posting Komentar